Cagar Budaya

Informasi
Bangunan Cagar Budaya

Museum Hos Tjokroaminoto

Jl Peneleh VII / 29-31, Peneleh, Genteng
Bangunan Cagar Budaya

Haji Oemar Said Tjokroaminoto

Lahir, 16 Agustus 1882, di desa Bakur Madiun

Wafat, 17 Desember 1934, di Yogyakarta

Hos Tjokroaminoto adalah salah satu figur terpenting pada awal tampilnya gerakan membangun kesadaran menuju manusia bermartabat merdeka bernama Indonesia.

Ia lahir dari keluarga priyayi Madiun, tapi ia memilih menanggalkan atribut feodalisme “menyimpan gelar raden, memprotes laku dodok-berjalan jongkok di depan bangsawan juga menuntut kesataraan bangsa Hindia. Ia kemudian menyeru pengikutnya mengenakan “pakaian Eropa”, sebagai lambang “pribumi sama-sama manusia seperti orang Belanda”.

Di usianya yang tak panjang, Oemar Said Tjokroaminoto meletakkan fondasi awal bangunan Republik. Meninggalkan kemapanan keluarga bangsawan, ia meretas jalan kesetaraan. Dialah “bapak” para tokoh pergerakan.

HOS Tjokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergerakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis. Salah satu Trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi Ilmu, Semurni-murni Tauhid, Sepintar-pintar Siasat yang akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan Nasional yang patriotik, dan ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia.

“PENELEH GANG 7 RUMAH PERGERAKAN KEBANGSAAN”

Di rumah yang tak seberapa luas itu Tjokro tinggal bersama istrinya, Soeharsikin, dan lima anaknya – Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad. Mereka sekeluarga tinggal di bagian depan, sementara bagian belakang rumah disekat menjadi sepuluh kamar kecil-kecil. Di ruangan sempit inilah Soekarno, Alimin, Musso, Soeherman Kartowisastro, Semaoen, dan lainnya indekos.

Rumah Tjokroaminoto merupakan rumah ideologi dialogis, tempat bertemunya tokoh-tokoh yang mempunyai ideologis yang berbeda. Rumah tersebut juga menjadi kancah mengadu ideologi antara Tjokroaminoto dengan Semaoen, Alimin,serta Darsono dan Tan Malaka yang berideologi Marxis-Komunis. Bahkan juga di sana pernah tinggal Soekarno, berbagai macam ideologi menjadi perbincangan sehari-hari bagi penghuni rumah tersebut  yang dikemudian hari menjadi pemimpin utama partai yang berideologi nasionalis. Pendiri Darul Islam/ Negara Islam Indonesia, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, yang pernah jadi sekretaris pribadinya juga pernah di rumah itu.

Segala bentuk pengaduan atas tindak penindasan akibat aturan-aturan pemerintah Kolonial juga ditujukan ke rumah Tjokroaminoto. Tjokroaminoto dikenal sebagai seorang pemimpin gerakan Sarekat Islam yang gigih dalam memperjuangkan nasib golongan masyarakat yang mengalami tindak penindasan sehingga tidak berlebihan bila menyematkan nama ‘rumah pergerakan” pada kediaman Tjokroaminoto di Peneleh. (Itahani Johan Pradana, “Rumah Guru Bangsa”)

Diskusi dan kaderisasi di kalangan pengurus dan pemimpin Sarekat Islam, tidak selalu diadakan di gedung dengan seremonial yang ketat. Rumah pribadi, sang pejuang menjadi markas dalam diskusi yang berbobot. Kondisi tersebut memungkinkan pemikiran yang dibahas didengar dan menyebar pada seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah yang terletak di Peneleh Gg. VII. Dalam konteks itulah, anak-anak yang indekos di rumah keluarga Tjokroaminoto banyak belajar. Dan dalam proses belajar tersebut mereka ikut belajar berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.

Rumah Tjokroaminoto di Surabaya dapat dikatakan sebagai “Markasnya Sarekat Islam”. Tidak henti-hentinya rumah Tjokro dikunjungi tamu yang bermacam-macam bangsa, corak dan tujuan.

Di kediaman rumah Tjokroaminoto tepatnya di ruang tamu/ ruang utama merupakan tempat bertemunya sejumlah pribadi yang (akan) berdialog, di Gang Peneleh ini pula ketika tokoh-tokoh Pembaru Islam  ini bertamu di rumah Tjokro seperti Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Fakih Hasyim dan A. Hassan, Tokoh Nahdlatul Ulama Wahab Chasbullah.

Rumah itu dibangun pada 1870-an dengan nuansa khas Jawa. Bagian depan terdapat pagar setinggi 1 meter dilengkapi empat pilar dari kayu, menyokong bagian atap. Lantai rumah berwarna kuning kecokelatan bercampur merah marun, menjadi alas penghias rumah lawas yang bersahaja. Di bagian pojok, terdapat sebuah tangga yang menuju ke bagian atap dari rumah ini. Dan di bagian atap ini ternyata dulunya merupakan sebuah kamar sederhana yang pernah ditinggali Ir. Soekarno saat menjadi penghuni kos di rumah ini. Dulunya Ir. Soekarno menuntut ilmu di Hogere Burgerschool (HBS) yang beralamat di Jalan Kebonrojo, sekarang berubah menjadi bangunan Kantor Pos Kebonrojo.

 Rumah HOS Tjokroaminoto ini sampai sekarang masih utuh dan tidak banyak mengalami perubahan.